Data Buku:
Penerbit: Diwanteen
Editor: F Assegaf & Achmad Rifki
Setting & Layout: mps creativa
Sampul: Faisal Rangga
Tebal: 565 halaman.
Mimpi,
adalah langkah pertama seorang manusia memasuki dunia fantasi. Ga
berlebihan anggapan itu, mengingat di situlah gerbang pertama kita
menyadari bahwa ada 'dunia' lain di balik dunia yang kita kenal. Dan di
'dunia' itulah kita mulai mengalami sebuah dunia yang tanpa batas
wilayah, tak berbatas ruang dan waktu, di mana kita bisa menjelajah
tanpa halangan, satu-satunya pembatas hanyalah ketika tiba waktu pagi :)
Mimpi, adalah Fantasy dalam bentuk yang paling dikenal oleh umat manusia.
Tak
heran, bahwa banyak kisah Fantasy yang lekat dengan dunia mimpi.
Mungkin cerita Fantasy paling awal yang saya kenal yang terkait mimpi
ini adalah kisah Alice in Wonderland. Dan tentunya, masih banyak kisah
Fantasy yang punya hubungan lekat dengan mimpi. Dan seluas dunia mimpi
itu sendiri, kupikir apa yang bisa digali dari dalamnya sebagai bahan
pembuatan cerita Fantasy bisa dianggap tak terbatas, seluas imajinasi
manusia.
Dream of Utopia, sebuah novel perdana dari pengarang yang baru lulus SMA, Sammy Balladrom, termasuk salah satu yang menggali dunia mimpi ini secara kreatif.
Tersebutlah
Alvernod Wolfric, dipanggil Verno, seorang remaja di kota Magestone,
USA, yang mendapatkan sebuah tawaran aneh, untuk bergabung dengan dunia
mimpi Dream Utopia, dimana setiap anggotanya bisa keluar dari mimpi
mereka yang semu, dan masuk ke dalam mimpi yang nyata (maksudnya
realistik). Di Dream Utopia, mereka dapat mengalami sebuah dunia
alternatif yang memukau, alam yang amat berbeda, Elfa, Animala, Planta,
dan kekuatan-kekuatan sihir. Setiap kali mereka tidur di alam nyata,
akan terbangun di Dream Utopia. Dan sebaliknya, bila tidur di Dream
Utopia, akan terbangun di Dunia nyata. Dan bonusnya, tubuh tetap segar
seperti biasa. Dan advantage-nya, di dunia Dream Utopia, kamu akan tetap
mengingat segala hal yang terjadi baik di dunia nyata maupun di Dream
Utopia, sementara disadvantage-nya, di dunia nyata kamu akan melupakan
apa yang terjadi di Dream Utopia (Now, why would somebody want to have that, beats me! Apa gunanya bermimpi indah kalo gak bisa mengingatnya?).
Ini premis yang sangat menarik, dan easily sangat workable
untuk dikembangkan dalam sebuah novel. Gini dong, bikin ide, gak usah
susah-susah, gak usah grande-grande-an, sederhana tapi langsung bisa
nge-gas. Berkahnya, penulis bisa lebih concern mikirin aspek kepenulisan
untuk membuat ceritanya menjadi lebih memikat pembaca.
Membaca Dream of Utopia, saya sungguh terkesan. Pengarang memiliki kemampuan bertutur yang lancar dan terang, dengan balancing
yang pas antara action, narasi dan dialog. Pengarang memang memilih
setting non Indonesia, dengan alasan yang hanya diketahuinya sendiri
mengapa. Tapi penerapan setting non-lokal (dalam hal ini nuansa negeri
paman Sam) berhasil diterapkan secara baik dan natural. Kalo saya bilang
bahwa kesannya persis seperti membaca novel terjemahan dari pengarang
luar nagri, jangan buru-buru anggap itu sebagai komplimen, karena buat
saya bisa nulis kayak orang bule itu nggak terlalu membanggakan. Menjadi
komplimen ketika saya merasakan tulisan Sammy lancar tanpa memaksa,
sekalipun bersetting bukan Indonesia. Artinya pengarang sudah melakukan
balancing yang amat baik untuk menjaga agar tulisannya dinikmati secara
konsisten dan koheren. Ada banyak karya tulis lokal yang secara aneh
memposisikan orang Amerika seperti berpikir dan bertindak secara
Indonesiawi (kalau orang indonesia berpikir dan bertindak secara
Amerikawi, itu udah gak aneh lagi sekarang, hehehe). Rasanya style
menulis pengarang sudah bebas dari kesalahan-kesalahan gegar budaya,
seperti penulisan dialog "Dong, Deh" dan semacamnya dalam setting yg supposedly non-Indonesia, dan juga berhasil membuat bahasa percakapan dalam dialog menjadi tak terlampau kaku atau 'maksa'.
Hanya
ada sedikit banget kesalahan, yang hanya mungkin dipersoalkan oleh
mulut-mulut cerewet macem gue punya, hehehe. Misalnya penyebutan Mrs.
untuk tokoh-tokoh gadis yg masih pada remaja (kudengar cukup lazim untuk
kesopanan? tapi karena konteksnya disini penyebutan kepada mereka
selaku siswi, mustinya yg lebih tepat adalah Miss). Kemudian nama Verno,
dipanggil singkat sebagai "Ver,.." koq rada aneh untuk orang Amerika.
Mustinya sebagaimana nama Dalton yang dipanggil "Dalt,", Verno juga
lebih cocok dipanggil, "Vern,"
Selebihnya, cukup perfect. Dan kelebihan lain yang saya rasakan adalah keberhasilan Sammy untuk membuat "page turner",
alias novel yang membuat kita mampu membaca terus dan gak terasa
membalik halaman demi halaman. Membaca Dream of Utopia, sekilas terasa
bagaikan membaca Harry Potter, dan ITU adalah sebuah komplimen!
Proficiat
juga untuk dunia fantasi yang diciptakan oleh Pengarang. Benar-benar
dunia yang dipenuhi imajinasi. Dunia Dream Utopia adalah bagaikan dunia
dongeng, dan pengarang berhasil menggambarkan itu melalui deskripsi yang
amat kaya, melibatkan warna-warna, bentuk-bentuk fantasi, hewan
fantasi, sampai dengan konsep fantastik (misalnya rumah pohon raksasa
Yggdrasil yang terdiri dari ribuan kamar). Begitu mudah dibayangkan oleh
pembaca, sekaligus rasanya begitu mudah divisualisasikan secara indah
oleh seorang ilustrator kompeten. Dan yang penting, saya merasakan bahwa
semua khayalan itu memang hadir pada tempatnya, tidak terasa seperti
mengada-ada atau tempelan (biasanya terasa demikian apabila sistem
logikanya kedodoran).
Mari saya ambilin contoh:
Terbentang
luas hamparan rumput hijau kebiruan--hamparan rumput di dalam sebuah
pohon raksasa--memantulkan sinar matahari dari embun-embun yang
menggantung di ujung rumput. Bunga peony, chrysanthemum, hyacinth,
hydrangea biru dan merah jambu, jasmine, anggrek, ros, melati, dahlia,
kamboja, dan berbagai bunga liar menjalar menguasai seluruh bebatuan dan
pilar-pilar menjulang--seolah menunjukkan keanggunan luar biasa yang
mereka miliki. Patung-patung berbentuk animala dan elfa tersusun rapi
mengelilingi lingkaran tengah pohon.
Sebuah kolam besar terlihat
tak jauh dari hadapan mereka, dikelilingi oleh tujuh kolam segitiga yang
lebih kecil, airnya sebening kristal, serta memunculkan pelangi
lengkung sempurna di atasnya. Puluhan ikan melompat dari dalamnya, ikut
menghirup udara segar yang ada--menyapa mereka dengan kombinasi warna
bagai lukisan seorang maestro. Beberapa Elfa berpakaian gaun mengkilap
bermain berpasangan, membentangkan sayap-sayapnya yang mungil, melayang
menyenangkan di atas permukaan rumput. Kelinci dan tupai berjalan
kesana-kemari, melompat dengan riang. Lapangan rumput ini dikelilingi
pilar-pilar cokelat, membentuk lingkaran pohon yang tingginya entah
berapa lantai. Pohon raksasa ini terlihat bagai tabung berongga. Di
kiri-kanan terlihat lorong lebar--sebenarnya membantuk lorong
lingkaran--berlantaikan marmer, campuran warna coklat dan peach.
(suasana di dalam Yggdrasil, hal. 158-159)
Masih
banyak yg lebih bagus dari ini, cuma saya males ngetikin semuanya,
hehehe,.. mendingan baca aja bukunya sendiri. Dan rasanya ini novel
layak baca, kalaupun sekedar cuma ingin menikmati penggambaran dunia
Dream Utopianya aja! Wisata Fantasi, adalah salah satu elemen daya tarik
yang hanya ada di genre Fantasy. Pengarang cukup pandai untuk
memanfaatkannya semaksimal yang ia bisa.
Hal lain yang patut
dipuji dengan dua jari jempol adalah kreativitas Pengarang dalam memberi
nama-nama, terutama nama-nama property dalam dunia Dream Utopia-nya.
Pengarang mampu memadu-padankan istilah-istlah bahasa Inggris menjadi
suatu nama baru yang tetap konsisten dengan konsep baru yang dinamainya
itu. Penamaan ini memberi excitement tersendiri dalam konteks fantasy,
serta memunculkan definisi khas yang langsung lekat dalam imajinasi
pembaca. Lihat beberapa contoh berikut ini:
Eleafator: magic lift yang terbuat dari anyaman daun
Aerosnake: Ular raksasa bersayap, bisa terbang, sering dipakai sebagai sarana transportasi udara
Elfiend: Elf yang berasal dari Dark Utopia, musuh Elfa
Dolphant: Animala persilangan Dolphin dan Elephant, berbentuk lumba-lumba yang memiliki gading, dipakai sebagai sarana transportasi air.
Pengarang juga memiliki sistem sihir yang cukup solid, disebutnya sebagai Natural Arts yang terdiri dari:
Hydromancy
Pyromancy
Aeromancy
Psychomancy
Tentunya masing-masing terkait dengan elemen yang diwakilinya: Air, Api, Angin, Jiwa.
Pendeknya, untuk buku yang satu ini, pengarang tampak sudah mempersiapkan Universenya secara lengkap dan detail, satu hal yang sangat saya puji untuk sebuah karya literasi Fantasy.
Selain
setting yang unik dan komprehensif, jangan lupakan
karakter-karakternya. Untuk karakter ini menurut saya sudah cukup
standar dan bagus. Ada Verno si tokoh utama, Marsha yang juga menjadi lead role,
Claire yang cerdas, Fantasia (Fan) yang artis penyanyi terkenal, dan
masih banyak tokoh lain manusia maupun Elfa yang tampil cukup sesuai
porsi masing-masing, membentuk susunan cast yang cukup
menghidupkan cerita. Miriplah dengan tipikal tokoh-tokoh ala Harry
Potter, sekalipun mungkin dalam hal karakterisasi masih kalah matang.
Untungnya, hal ini masih bisa dikejar dan dikembangkan dalam novel
sekuel. Setting yang solid akan sangat memudahkan hal ini.
Lantas apa yang bisa saya utarakan sebagai masukan?
Well, sebagai sebuah karya perdana, rasanya terlalu too good to be true,
ya, kalo gak ada kelemahan? Hehehe,... menurut saya sih ada sedikit
kelemahan yang bukan bersumber dari kemampuan pengarang dalam menulis
atau berfantasi.
Di bagian-bagian awal, tempo cerita terasa enak
melaju, dengan actions yang cukup memikat walaupun latar belakangnya
kurang dijelaskan. Tak apa, sebab pembaca sadar bahwa cerita masih baru
mulai. Memasuki bab Ujian ke Dream Utopia (masuk dunia mimpi rupanya
harus diuji dulu), plot tambah memikat. Walaupun logika saya sempat
berkali-kali terchallenge, berkali-kali pula saya
menegasikannya, memaklumkannya semata karena emang lagi enak ngikutin
ceritanya aja. Apalagi saat masuk dunia Dream Utopia secara utuh, wuah,
saya sampai terkagum-kagum. Kira-kira sampai pertengahan buku setebal
500-an halaman ini.
Pas sampai pertengahan,.... (biasa, syndrom buku tebal!), mulai terasa slowing down.
Aspek penceritaan tetap bagus, sih, cuma sebagai pembaca saya mulai
bertanya-tanya. Ada cukup banyak pertanyaan yang saya ucapkan, antara
lain (1) apa sih tujuan dari plot-plot ini? (2) mengapa rasanya mulai
'aneh', (3) saat fokus-fokus mulai bergeser pada konflik dan masalah,
saya jadi check back dan memperhatikan kembali apa yang sudah terjadi
dan apa arah pengarang selanjutnya.
Bukan salah pengarang
sepenuhnya. Biasalah dalam suatu novel, pembaca akan disuguhi hal-hal
memukau di bagian depan, sebelum kemudian mulai masuk ke inti
permasalahan. Setelah hal-hal ajaib di awal mulai terasa biasa-biasa
aja, otomatis otak saya akan mencari-cari masalah. "Trus ngapain, neh?"
begitu kali, jika si otak bisa ngomong. Akibatnya, otak mulai
menguraikan segala anomali yang dirasakannya. Saya harus berulang kali
mengingatkan otak saya bahwa ini dunia mimpi, anomali itu dimungkinkan
oleh logika cerita. Tapi dasar otak, teteup aja ngotot.
Beberapa hal ditanyakannya,
"Aneh deh, ngapain untuk masuk Dream Utopia aja pakai tes-tes yang segitu aneh? Udah gitu, apa relevansi tes-tes itu kemudian?"
"Dream
Utopia ini ada yang ngatur (merintah), ya? Dan pemerintahnya itu
ternyata tukang 'tipu'! Ternyata mereka ngerekrut anak-anak itu cuma
untuk dijadikan pasukan melawan Dark Utopia. Kalo gue jadi orang tua
murid di Yuna, gue udah bikin petisi, tuh."
"Dream Utopia sudah
berusia 20.000 tahun lebih, dan ADA yang menciptakan!! Koq ngga hal itu
ngga terefleksikan dalam cerita secara memuaskan?"
"Anak-anak ini
di dunia nyata udah sekolah, eh di Dream Utopia SEKOLAH LAGI! Sekolah
untuk mempertahankan diri, katanya. Lhah, kenapa gue harus mau masuk
dalam dunia mimpi yang sama bahayanya dengan dunia nyata? udah gitu
SEKOLAH! Boy I hate that word!" (Harap maklum, otak saya memang
membenci sekolah, semata berdasarkan pengalamannya selama sembilan
belas tahun di sistem pendidikan RI. Well, dia memang nggak bisa
disalahkan, hehe).
"Kalo orang mati di Dream utopia, di dunia nyata dia mati juga gak ya?"
Terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, saya hanya nyengir aja menanggapinya.
"Untuk apa orang 'hidup' di Dream Utopia?"
Tek, untuk yg satu ini, terpaksa saya tercenung.
Well,
mungkin di titik itulah ide saya dengan ide Sammy Balladrom gak ketemu.
Saya orangnya terlalu serius, sehingga nggak bisa menemukan apa point
terpenting dari all the fuss about this dream world, apabila
segala alasan dan segala konflik mengenainya tidak terjelaskan secara
memuaskan. Saya tahu, kadang Fantasi tidak selalu membutuhkan
penjelasan. Tapi sebagai pembaca, saya paling malas kalau masih ada
ruang-ruang kosong di kepala saya.
Ada orang bikin sebuah dunia
mimpi Dream Utopia dua puluh ribu tahun yang lalu, untuk motivasi yang
belum dijelaskan, dan lantas ada dunia lawan berupa Dark Utopia, yang
mati-matian berusaha menerobos portal ke Dream Utopia untuk maksud yang
juga kurang jelas. Bahwa Dark Utopia juga dianggap the bad guys,
okelah. Tapi penjahat di dunia nyata aja ada alasannya kenapa jadi
penjahat. Kemudian selama ini Dream Utopians merekrut warga Magestone
melalui surat bersampul hijau itu, kenapa? Masih menjadi pertanyaan
menggantung.
Gara-gara pertanyaan tersebut, upaya saya menikmati
setengah buku ke belakang terus terang menjadi terganggu. Bukan salah
pengarang, tapi salah saya sendiri. Gara-gara itu, konflik utama novel
mengenai usaha para Guardiana mengantar Maiden of Tear ke Havarma Coast
menempuh kesulitan (yg rasanya merupakan semacam ujian juga, karena
sebetulnya mereka bisa lewat jalur lain yang lebih nyaman) guna menutup
Portal, menjadi perjalanan yang tak terlampau menarik lagi bagi saya.
Itulah jeleknya otak saya. Ketika masalah utamanya belum diaddress
secara memuaskan, otak saya langsung menegasikan hal-hal lain sebagai
sekedar tempelan belaka.
Padahal, apabila saya membaca tanpa
prasangka apapun, jalinan cerita tetap merupakan kisah memukau yang
sulit dicari tandingannya. Dream Utopia menetapkan siapa Maiden of Tear
yang ke tiga belas, kemudian melakukan ujian (lagi) untuk mendapatkan
Guardiana, kemudian Maiden of Tear dan Guardiana menempuh perjalanan
berbahaya, memasuki alam Dream Utopia yang semakin ajaib, memecahkan
berbagai persoalan, sampai akhirnya showdown melawan pasukan
Dark Utopia di portal Havarma Coast. Padahal ada Treetop Lodge, padahal
ada Lake of Undine (yang demikian imajinatif), padahal ada paduan suara
Fan dan Syrenia yang memukau (sayang menyanyinya pakai bahasa Elfa yang
kurang meyakinkan. Kalo dibikin pakai bahasa Inggris dengan makna yang
pas, kurasa akan jauh lebih menggetarkan!), adegan klimaksnya juga
terasa a wee bit keburu-buru, padahal ini sebuah kisah seru, sebetulnya :)
Jadi,
kesimpulannya sebagai masukan saya: kalau pengarang berkenan memuaskan
otak saya, please kembangkan sebagian plot untuk memperjelas misteri
mengenai Dream Utopia yang belum tersingkap ini. Kenapa semua hal
menjadi seperti sekarang. Tapi kalo gak berkenan, ya ga apa-apa juga,
sih. You already have a great story :)
Sebagai penutup, saya mo kritik dua hal yang kurasa bukan porsinya Pengarang, tapi porsinya Penerbit.
Pertama mengenai sampul, yang kurasa sangat tidak do justice terhadap naskah top notch-nya pengarang ini. Ilustrasi sampul berupa gambar kepala cowok yang tiduran di rumput sambil menutup matanya. My God
maksudnya apa? Ekspresi anak itu seperti anak bule yang lagi mikir
"Cilaka, gue lupa ngerjain PR Mrs. Easton,", atau mungkin ekspresi si
bintang basket yang lagi nyaris pingsan dan mimisan akibat kehantam bola
basket di kepala. Nggak banget!! Font judul terlalu tipis dan kurang
kontras (warna hijau keemasan di atas latar belakang warna hijau),
sehingga ngga langsung terbaca di antara deretan buku di rak pajang.
Cover belakang berisi sinopsis kepanjangan yang ditulis dengan huruf
berfont ukuran 6 point, kali. Nggak kebaca di mata gue yang udah
plus-minus-silindris ini!
Jangan salahkan pengarang, bila penjualan buku kurang menggembirakan. Itu akibat dari bad cover design!
Pokoknya, desain cover Dream of Utopia ini bener-bener merusak jurus "Judge by the Cover"
gue, karena pertama kali ngelihat, jujur gue ngerasa ni buku 'murahan'
banget, pasti ceritanya norak. Dan amboi ketika saya salah 100 persen,
maka kesalahanku itu aku timpakan back-to-back pada desainer
sampulnya! He he he,... (sorry ya mas ilustrator, saya tahu pemilihan
gambar sampul bukan semata-mata ada di Anda, koq).
(Kalau saya
ditanya ilustrasi apa yang pas buat sampul buku ini? Jawaban saya udah
pasti: Gambar Pohon Yggdrasil, yang dilukis oleh ilustrator Fantasy yang
kompeten.)
Yang Kedua, adalah mengenai Judul: Dream of Utopia.
Pertama
baca judul itu di rak pajang, saya sempat mengerutkan kening, merasa
ada sesuatu yang janggal. Kupikir-pikir lagi makna kata-kata itu
menjadi, "Memimpikan (suatu) Utopia", tapi mustinya inggrisnya adalah Dreaming of an Utopia. Atau mungkin "Mimpinya si Utopia", koq masih aneh ya? Ah! Pokoknya itu terasa seperti Bahasa Inggris yang 'salah', aja.
Lantas
di dalam bukunya, pengarang secara konsisten dan benar selalu
menuliskan Dream Utopia, bersanding dengan Dark Utopia, atau Orientation
Utopia, which is kuanggap benar karena masing-masing jelas menyebutkannya sebagai suatu nama tempat yang memiliki properti sifat-sifat tertentu.
Dan
belakangan, aku dapat statement dari pengarang bahwa judul aslinya
memang Dream Utopia, tapi kemudian 'curiously' disampul tercetak Dream
of Utopia dengan sub judul: Maiden of Tears (Di halaman dalam aja masih
tercetak judul original, Dream Utopia (Perjalanan di Dunia Mimpi)).
Aku
nggak tahu kenapa dan darimana sang Penerbit punya ide se-misleading
itu, tapi dugaan sementaraku saat ini adalah bahwa ini merupakan usaha
para Agen Dark Utopia yang sedang menjalankan misi mencegah buku Dream
Utopia laris di kalangan penggemar Fantasy (halah!)
Well,
demikian aja kritiknya. Sedikit, khan? Kurasa dengan segala kelebihan
dan pesona yang dimilikinya, nggak berlebihan bila untuk saat ini, Dream
of Utopia karya Sammy Balladrom aku nobatkan sebagai The Best Fantasy
in my List, menggeser posisi Ledgard, untuk sementara.
So, untuk Sammy, selamat datang penulis Fantasy baru Indonesia! You have a great work! Lanjutannya kami tunggu.
Untuk
temen-temen penggemar Fantasy, kurasa tidak salah kalau aku
rekomendasikan buku ini untuk dibaca. Layak beli, juga lah. Please
support para pengarang potensial dengan membeli bukunya, jangan minjem
atau nge-ebook. Biar gimanapun, kalo ga ada profit, ga mungkin bisa
terbit kisah lanjutannya, dan kita juga yang rugi. He he he,...